MERDEKA YANG BELUM USAI
Oleh: Amir_Sumenep
Bendera Merah Putih berkibar di halaman sekolah pagi itu. Angin Agustus meniupnya perlahan, membuat kain merah dan putih itu menari di antara langit biru. Suara anak-anak terdengar riuh. Mereka mengenakan pakaian bernuansa merah putih, sebagian membawa bendera kecil yang dikibarkan dengan penuh semangat.
Hari itu adalah hari yang selalu dinanti.
Hari Kemerdekaan.
“Selamat pagi, Indonesia!”
Suara pembawa acara menggema melalui pengeras suara.
Anak-anak bersorak.
“MERDEKA!”
Teriakan itu terdengar lantang.
Namun, di antara kerumunan siswa yang bersemangat, seorang anak laki-laki berdiri diam. Namanya Raka. Ia duduk di kelas IX SMP. Matanya memandang bendera yang sedang berkibar, tetapi pikirannya justru melayang jauh.
“Rak, kenapa diam saja?”
Raka menoleh. Dimas, sahabatnya, berdiri di sampingnya.
“Tidak apa-apa.”
“Biasanya kamu paling semangat kalau lomba.”
Raka tersenyum tipis.
“Aku sedang berpikir.”
“Berpikir apa?”
Raka menunjuk bendera di atas tiang.
“Menurutmu, kita benar-benar sudah merdeka?”
Dimas mengerutkan kening.
“Ya jelas. Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945.”
Raka kembali memandang bendera.
“Itu yang tertulis di buku sejarah.”
“Lalu?”
Raka diam beberapa detik.
“Bagaimana kalau kemerdekaan kita sebenarnya belum utuh?”
Dimas tertawa kecil.
“Wah, kamu kebanyakan membaca buku.”
Namun, Raka tidak ikut tertawa.
Setelah upacara selesai, seluruh siswa mengikuti berbagai perlombaan. Ada balap karung, memasukkan pensil ke dalam botol, estafet kelereng, dan tarik tambang.
Suasana sekolah berubah menjadi penuh kegembiraan.
Raka mengikuti lomba memasukkan bola ke dalam tampah. Ia berlari bersama teman-temannya. Tawa dan sorak-sorai memenuhi halaman sekolah.
Untuk beberapa saat, Raka melupakan pertanyaan yang sejak pagi mengganggu pikirannya.
Tetapi ketika perlombaan selesai, ia melihat seorang anak kecil duduk di dekat pagar sekolah.
Anak itu bernama Udin.
Udin bukan siswa sekolah tersebut. Ia sering membantu ibunya berjualan makanan di sekitar sekolah.
Raka menghampirinya.
“Din, kok tidak ikut lomba?”
Udin menggeleng.
“Aku tidak sekolah.”
Raka terdiam.
“Kenapa?”
Udin menunduk.
“Ibu tidak punya cukup uang.”
Jawaban sederhana itu terasa berat bagi Raka.
“Kalau tahun depan bagaimana?”
Udin tersenyum.
“Entahlah.”
Raka duduk di sampingnya.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tertawa.
“MERDEKA!”
Sekali lagi kata itu terdengar.
Tetapi kali ini Raka merasa ada sesuatu yang berbeda.
Bagaimana mungkin seorang anak seusianya belum mendapatkan kesempatan untuk belajar?
Apakah itu juga bagian dari kemerdekaan?
Sepulang sekolah, Raka berjalan melewati sebuah kampung di belakang pasar.
Di sana ia melihat beberapa rumah yang sangat sederhana. Seorang lelaki tua sedang mengangkut barang dengan gerobak.
Raka mengenalnya.
Pak Jaya.
“Pak, belum pulang?”
Pak Jaya tersenyum.
“Belum, Nak. Masih mencari tambahan.”
“Bukankah Bapak sudah bekerja sejak pagi?”
“Iya.”
“Tidak capek?”
Pak Jaya tertawa.
“Capek itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau anak-anak di rumah tidak bisa makan.”
Raka terdiam.
Ia menatap tangan Pak Jaya yang kasar.
Di sekolah tadi, ia baru saja meneriakkan kata “merdeka”.
Namun, di luar sekolah, ia melihat orang-orang yang masih berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Malamnya, Raka membuka buku sejarah di kamarnya.
Ia membaca kembali tentang perjuangan para pahlawan.
Tentang keberanian.
Tentang pengorbanan.
Tentang kebebasan.
Namun, semakin lama membaca, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Kemerdekaan ternyata bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga tentang kesempatan.
Kesempatan untuk belajar.
Kesempatan untuk hidup layak.
Kesempatan untuk berbicara.
Kesempatan untuk bermimpi.
Dan kesempatan untuk menjadi manusia yang dihargai.
Raka menutup bukunya.
Ia mengambil selembar kertas dan menulis:
“Kemerdekaan yang tidak utuh adalah ketika sebuah bangsa telah bebas dari penjajahan, tetapi sebagian rakyatnya masih terbelenggu oleh kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan rasa takut.”
Keesokan harinya, Raka membawa tulisan itu ke sekolah.
Ia menunjukkannya kepada gurunya, Bu Ratna.
Bu Ratna membaca tulisan itu dengan saksama.
“Menurutmu, apa yang harus dilakukan?”
Raka menggeleng.
“Saya tidak tahu, Bu.”
Bu Ratna tersenyum.
“Kalau begitu, jangan hanya bertanya. Mulailah melakukan sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Ya. Tidak harus besar.”
Raka memandang gurunya.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Raka.
Sepulang sekolah, ia menemui Dimas.
“Aku punya ide.”
“Ide apa?”
“Kita buat kegiatan belajar gratis untuk anak-anak di kampung.”
Dimas tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Siapa yang mengajar?”
“Kita.”
“Kita masih siswa.”
“Justru karena kita masih siswa, kita bisa mulai dari apa yang kita punya.”
Dimas akhirnya mengangguk.
Mereka mengajak beberapa teman.
Awalnya hanya lima orang.
Mereka menggunakan teras rumah Pak Jaya sebagai tempat belajar.
Anak-anak datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Ada Udin.
Ada Sari.
Ada Beni.
Ada beberapa anak lain.
Raka mengajarkan membaca.
Dimas mengajarkan matematika.
Teman-teman lainnya mengajarkan menggambar dan menulis.
Tidak ada meja yang bagus.
Tidak ada papan tulis besar.
Tidak ada seragam.
Tetapi ada semangat.
Setiap sore, teras kecil itu dipenuhi suara anak-anak.
“Dua ditambah tiga?”
“Lima!”
“Bagus!”
Tawa pun pecah.
Hari demi hari berlalu.
Kegiatan kecil itu semakin ramai.
Suatu sore, Udin datang membawa sebuah buku.
“Mas Raka.”
“Ya?”
“Aku mau sekolah.”
Raka tersenyum.
“Kamu harus sekolah.”
“Tapi Ibu tidak punya uang.”
“Kita bicarakan bersama.”
Raka kemudian menemui ibunya Udin. Bersama Bu Ratna dan beberapa guru, mereka mencari jalan agar Udin bisa kembali mendapatkan pendidikan.
Beberapa minggu kemudian, Udin akhirnya masuk sekolah.
Hari pertama Udin mengenakan seragam sederhana.
Ia berdiri di depan Raka dengan wajah bahagia.
“Mas, aku sekolah!”
Raka menepuk pundaknya.
“Jangan berhenti bermimpi.”
Udin tersenyum lebar.
Setahun kemudian, bulan Agustus kembali datang.
Bendera Merah Putih kembali berkibar di halaman sekolah.
Upacara kembali dilaksanakan.
Anak-anak kembali meneriakkan kata yang sama.
“MERDEKA!”
Kali ini Raka tidak lagi memandang kemerdekaan dengan cara yang sama.
Ia tahu bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai hanya karena sebuah proklamasi telah dibacakan.
Kemerdekaan adalah pekerjaan yang harus terus dijaga.
Setelah upacara, Raka melihat Udin berdiri di barisan siswa.
Ia tersenyum.
Udin kini menjadi siswa kelas VII.
Di dadanya terpasang tanda peserta upacara.
Raka merasa bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tidak membuatnya lupa.
Masih ada anak-anak lain yang belum bisa sekolah.
Masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan.
Masih ada orang-orang yang takut menyampaikan kebenaran.
Masih ada ketidakadilan.
Masih ada perbedaan kesempatan.
Karena itu, kemerdekaan belum sepenuhnya selesai.
Sore hari, Raka duduk di bawah pohon di halaman sekolah.
Dimas datang menghampirinya.
“Kamu masih berpikir soal kemerdekaan yang tidak utuh?”
Raka tersenyum.
“Masih.”
“Bukankah sekarang kamu sudah tahu jawabannya?”
Raka mengangguk.
“Dulu aku berpikir kemerdekaan adalah sesuatu yang sudah diberikan kepada kita.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku sadar, kemerdekaan juga sesuatu yang harus kita perjuangkan.”
Dimas duduk di sampingnya.
“Berarti kita belum merdeka?”
Raka memandang bendera yang masih berkibar.
“Kita sudah merdeka sebagai bangsa.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi perjuangan untuk membuat kemerdekaan itu dirasakan oleh semua orang belum selesai.”
Angin sore berembus.
Bendera Merah Putih bergerak perlahan.
Merahnya tetap berani.
Putihnya tetap suci.
Raka berdiri.
Ia mengambil bendera kecil yang tergeletak di dekatnya, kemudian menancapkannya di tanah.
“Suatu hari,” katanya, “aku ingin tidak ada lagi anak yang berkata, ‘Aku tidak bisa sekolah karena tidak punya biaya.’”
Dimas tersenyum.
“Aku juga.”
“Dan aku ingin orang-orang tidak lagi takut untuk bermimpi.”
“Aku juga.”
“Kalau begitu, kita mulai dari sekarang.”
Mereka berjalan meninggalkan halaman sekolah.
Di belakang mereka, Merah Putih terus berkibar.
Bukan sekadar sebagai tanda bahwa Indonesia telah merdeka.
Tetapi sebagai pengingat bahwa kemerdekaan adalah janji.
Janji kepada mereka yang telah gugur.
Janji kepada mereka yang sedang hidup.
Dan janji kepada generasi yang akan datang.
Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada upacara.
Tidak boleh berhenti pada lomba.
Tidak boleh berhenti pada kata-kata.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika setiap manusia memiliki kesempatan untuk hidup, belajar, bermimpi, berkarya, dan menentukan masa depannya dengan bermartabat.
Selama masih ada satu anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar, satu keluarga yang tidak mendapatkan keadilan, atau satu manusia yang merasa tidak memiliki kebebasan untuk bermimpi, maka tugas kita belum selesai.
Indonesia memang telah merdeka.
Tetapi kemerdekaan itu belum sepenuhnya utuh.
Dan mungkin, kemerdekaan yang utuh bukanlah hadiah yang akan datang suatu hari nanti, melainkan perjuangan yang harus kita lanjutkan setiap hari.
Di bawah langit Indonesia, Raka tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Indonesiaku.”
Lalu, bersama Dimas, ia melangkah.
Bukan untuk merayakan kemerdekaan semata.
Tetapi untuk mengisinya.
Merdeka!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar